Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2013

     Sudah tiga jam aku terpaku disini menunggu dan menunggu, seperti katamu tadi lewat via telepon bahwa kau akan hadir malam ini. 

    Ku hibur diriku dengar mendengarkan lagu dari radio hanphone kulu-kuluku. Malam ini ulang tahunku disini sudah tersedia sekotak tar dan lilin yang masi utuh belum tersentuh korek api. Ia sepertiku tak sabar menunggumu, tak sabar melihat sosokmu dari balik pintu bersama senyum manismu yang tidak asing untukku, yang selalu membuatku merindukanmu.  
   Tiap saat ku lirik jam tanganku kaupun tak kunjung datang hati merawang jauh di langit dengan seribu tanya mengapa kau tak jua hadir.  Sayang malam ini tak istimewa, tak ada tamu dan tak ada sajian apapun hanya kita dan sekotak tar, dan minuman segar. Sebentar lagi 8 februari akan tiba, mengapa tak juga kau hadir. Aku mengambil hanphone, kutekan tombol, tertera calling ke nomormu. Namun ternyata apes, pulsa tak cukup lagi untuk menghubungimu. 
    Malam semakin kelam dan sunyi, hanya desingan kendaraan satu persatu terdengar, berharap satu diantara desingan itu adalah suara Honda kesayanganmu. Tapi ternyata itu Cuma harapku saja. 
     Kembali aku merangkul kue tar ini ku cabut satu persatu lilin yang mengitarinya lalu ku masukkan dalam kulkas. Aku melangkah ke kamar dengan gontai, tak terasa sebulir turun jatuh di lantai di susul sebulir lagi di sebelahnya, lama-lama berbulir-bulir lagi, pikirku tak bisa di ajak berdamai rasa kecewa yang teramat dalam. 
     Kubaringkan tubuhku dan ku benamkan mata dalam kesunyian hingga ku terlelap dalam keheningan. Jam deker  berdering, pertanda subuhpun tiba, aku melirik hanphone berharap ada sms dari Rio, namun yang ada hanya sms dari sahabatku meri ‘sweet seventeen say, semoga sukses dan langgeng bersama Rio’.  
'Rio bagaimana aku bisa langgeng mery, malam ini saja tak ada ucapan darinya, apa ini yang di bilang langgeng, semoga saja doa’mu di jamah Allah mer, sending…, akhirnya sms balasan terkirim juga.  

Tepat jam 08.30  aku sudah berada di kampus, pagi kali ini aku temakan ‘emosi’, ya aku tak ingin bertemu Rio. Aku masi benci padanya, kemana ia semalam mengapa mengingkari, mengapa juga tak sms, aku amat emosi. 
 
      Namun hingga sorepun aku tak juga mendapat kabar dari Rio di kampus, aku kangen padanya, apa dia sudah berubah?.
     Aku menanyakan kepada teman-temannya namun mereka juga tidak tau. Ku coba menelpon ke nomornya namun nomornya tidak aktif, aku sangat khawatir ada apa dengan Rio.
Ya Allah aku harus mencari Rio kemana, di kontrakannya pun Rio tak aku temukan.
        Sebulan sudah aku terus mencari Rio, bersama Mery kawanku yang selalu setia menemaniku, namun hasilnya tetap nihil Rio menghilang entah kemana, ibarat di telan bumi. aku sangat sedih, frustasi dengan kepergian Rio. 
'Kemana kamu Rio, mengapa kau tega meninggalkanku tanpa kabar apapun, apa kau lupa padaku yang sudah 6 bulan setia menemanimu, tidak kah kau tau besarnya cinta ini untukmu, selama 6 bulan apakah tidak cukup kenangan yang kita lalui, Rio dimana kah kau berada'

        Waktu demi waktu terus bergulir, aku tak boleh diam saja, aku terus mencari tau keberadaan Rio. Aku mendatangi rumah orang tuanya, dan mereka tak mau memberi tahuku, walau aku tau mereka mungkin tak suka padaku tapi aku berusaha membujuk agar keluarga Rio mau jujur padaku, satu persatu aku datangi termasuk sepupu-sepupu Rio, namun aku kecewa mereka sengaja tak mau mengatakan. Aku semakin sedih tapi aku tak menyerah sampai disitu.  

           Setahun sudah berlalu, seperti kataku aku tak mau menyerah mencari tau keberadaan Rio, hingga suatu hari aku nekat menyewa sebuah penginapan di kota asal Rio. 


       Aku berniat hendak mengikuti kemana perginya orang tua Rio, hanya satu harapanku aku harus berhasil dengan usaha ini. Aku terus membuntuti orang tua Rio, hingga aku berhasil mengikuti mereka menuju sebuah tempat terpencil, aku tak tau tempat itu menuju kemana, yang aku tau disana ada sebuah tembok besar tak berpenghuni di sekelilingnya ada pagar beton dan sedikit pohon yang rindang. 


        Aku bertanya-tanya apa yang mereka cari disana.  Aku terus mendekati dan perlahan-lahan hingga aku terpekik dengan sebuah tangan yang meremas pundakku dari belakang, dengan gemetar aku membalikkan wajahku, rupanya pak polisi dengan seragamnya yang lengkap,

   
    ‘Hei non, kenapa kamu mengintip disini, kamu siapa ayo ikut aku kedalam'. 
'Titiiidak pak, ak..akku hanya ingin memastikan tempat apa ini soalnya saya penasaran pak,' aku terbata-bata,


'Hah alasan kamu ayo ikut saya ke dalam',
'Pak benaran tolong lepaskan saya, saya benar-benar hanya penasaran pak, saya melihat gudang ini antik dengan suasana yang sepi pak membuat saya penasaran, hanya itu saja kok pak''.

 'Baiklah, saya terimah alasan kamu, tapi kamu tidak boleh sembarang main kesini, ini tempat terlarang hanya orang-orang tertentu yang boleh kesini, mengerti kamu..!'


 'Baik pak, maaf ya pak, permisi pak..! 
Sayapun berlalu dengan penasaran saya yang dalam, dan keyakinan saya bahwa Rio ada di dalam sana. 
Bunyi Dering hanponku mengangetkanku, Meri menelponku, 

‘Ya halo Meri ada apa?’ 

‘Hana sayang kamu kemana sih, kenapa dua hari ini kamu tidak masuk kampus’!

 'Maaf ya Mer, aku lagi kurang enak badan, jadi aku cuti dulu beberapa hari, ya udah Mer aku mau istirahat dulu ya,  

   ‘ ehh,,tunggu…! 

 Tiba-tiba aku langsung menutup hanphoneku aku tak mau Meri tau apa yang aku lakukan sekarang, aku berusaha berjuang sendiri tanpa sepengetahuan siapaun. 


        Kembali aku memandang tembok besar itu, aku mendekati lagi dengan hati-hati aku bersandar di tembok itu, batinku semakin kuat mengatakan kalau Rio ada dalam tembok besar itu, tapi apa yang Rio lakukan di dalam sana, untuk apa dan dengan siapa, aku penasaran. 
Lalu aku menuju perkampungan warga, aku bertanya pada seorang ibu.
'Bu, Permisi mau numpang nanya boleh ya Bu…?' 
'Ohh iya silahkan Nak ada apa.. !
'Begini Bu, saya orang baru disini dan saya tertarik dengan suasana tembok besar yang disana itu, kalau boleh tau itu apa ya bu,?.. 

Oohh.. itu penjara nak, disana tempat orang-orang yang di hukum atau di kurung saat melanggar hukum'. 

'Ooh jadi itu penjara ya bu, makasih ya informasinya Bu..!'
'Ya nak..memangnya dari mana ya nak kok tidak pernah tau lokasi disini?'
Ohh saya dari Sulawesi bu, saya ke sini mau cari teman saya, saya permisi dulu ya bu'
Oh iya nak, hati-hati ya.. Iya Bu’ makasih'

'Penjara....?'
Hatiku bertanya-tanya.
Lalu apa kesalahannya, selama ini Rio baik-baik saja, anaknya baik dan sopan, lalu mengapa, ada rahasia yang tidak aku ketahui. 

Aku segera, menelpon Meri, namun belum sempat dia angkat aku sudah menutupnya kembali sebab mobil orang tua Rio sudah melintas di depanku untung mereka tak mengenaliku.

Aku segera mendekati tembok itu, aku memeluknya, aku merindukan Rio yang ada di dalam sana, dia pasti juga sangat merindukaknku, dan aku yakin itu. 

Aku memetik satu tangkai bunga kertas, lalu ku sodorkan di bawah tembok itu, semoga Rio merasakan kehadiranku di balik tembok ini. Aku berdo’a setelah itu aku mengambil sebutir batu, aku mengariskan di tembok itu. Aku sengaja menulis garis untuk menandai berapa banyak aku berkunjung disana.  Meri menelponku lagi, 

'Halo Meri',

Halo Hana kamu dimana aku ke kontrakanmu ya.., aku khawatir dengan keadaanmu Han..! 
‘Meri, aku sekarang ada bandung, kamu jangan kuatir, aku baik-baik saja’ 
‘Whattt….! Kamu ngapain di bandung kamu bohong tadi, kamu kenapa tidak kasi tau..! 
‘Maaf Mer, aku ingin caritau Rio sendiri saja, aku tau sekarang Rio dimana’ 
‘Apa kamu tau Rio, dimana Hana, dimana Hana kasi tau aku'. ‘Besok aku kasi tau kamu, uda dulu ya Mer, aku mau pulang daa..! aku menutup telpon dan menuju penginapanku. 


Aku menerawang ke langit-langit kamarku, mencoba memecahkan teka-teki ini, aku mengambil foto Rio, aku memandangnya, memeluknya hingga aku terlelap. 

Esok harinya, aku datang di tembok besar dan memeluk tembok itu, seolah Rio pun memelukku dari balik tembok itu, dan lagi-lagi aku di kejutkan dengan tangan seseorang di bahuku, tersentak kaget aku segera balik, dan kali ini bukan pak polisi yang kemarin menegurku, tapi kali ini mamanya Rio.

Aku seperti di sambar geledek, diam dan tak berkutik, tetes air mataku tak aku rasakan lagi menetes, badanku kaku seakan ingin jatuh. 

'Nak, apa kamu baik-baik saja'

 Kali ini suara itu mengagetkan aku.  Mamanya Rio menyentuh pipiku, dan menghapus air mataku, seakan mengerti dengan apa yang aku rasakan.

Aku langsung memeluk mamanya, dan diapun seolah ikhlas aku merengek di pundaknya. 
'Maafkan ibu, nak,.. selama ini ibu tidak memberi tahukanmu tentang Rio'
'Bu, Rio ada dalam sana kan Bu, Bu kenapa Rio tidak mengabari aku, kenapa Rio menyembunyikan dari aku Bu,'
 Aku menangis dan sulit ke rendahkan tangisku. 

'Tapi kamu jangan menangis dengan menangis ibu takut menceritakan kejadian Rio'

Aku menahan isak meski sesak rasanya, aku coba tenang dan siap menerima cerita dari mamanya Rio. 

‘Nak Hana, ini adalah permintaan Rio, agar jangan sampai kamu tau tentang hal yang menimpahnya, tapi karna kamu sudah berusaha sekuat-kuatnya untuk mencari tau Rio, ini membuktikan bahwa kamu benar-benar tulus mencintainya,’  

Bu, aku sangat mencintai Rio Bu, aku tidak bisa melepaskan Rio begitu saja, apapun keadaannya Rio tetaplah Rio yang baik yang aku kenal Bu,..!

‘Baiklah Nak, setahun yang lalu, Rio, sempat terperangkap dengan narkoba, dia di tangkap polisi di kontrakan sebagai pengedar narkoba, namun dia tidak memakainya hal itu menyeretnya sampai berada dalam bui ini..!'

           Aku sangat kaget, serasa tidak percaya dengan semua perkataan mamanya Rio, selama enam bulan aku menemani Rio mengapa banyak hal yang aku tidak tau pada dia. Aku benar-benar kaget sekaligus menyesal kenapa aku tidak bisa menjaga Rio dengan baik sebelum ia terperangkap dengan barang haram itu. 


'Sekarang, apa boleh bertemu Rio bu, aku sangat merindukannya, aku ingin menyapa Rio Bu'

'Percuma Nak, Rio tidak pernah mau bertemu dengan siapapun bahkan dengan kamipun Rio enggan' 

        Aku semakin sedih mendengar kisah kekasihku, sekaligus aku bersyukur karena mamanya Rio sudah bercerita, kini aku merasa sedikit legah. 


         Hari itu, aku rasa aku harus balik ke Sulawesi, walau berat aku meninggalkan Rio, tapi aku berjanji aku akan setia menuggu Rio. 


    Sebelum berangkat ke bandara aku mampir ke tembok besar itu lagi, aku ingin pamit pada Rio sembari mengambil sebutir batu, dan mencoret sebuah garis di dinding itu. Disana sudah terdapat 6 garisan tandanya sudah enam kali aku berkunjung di sana. 


      Aku memeluk tembok itu, aku merasakan ada sesuatu di bahuku, aku tau, itu adalah pak polisi atau ibu Rio, namun aku tak kaget lagi malah aku membiarkan tangan itu terus di pundakku. Sambil membelakanginya aku berkata’ 


'Biarkan 5 menit aku memeluk tembok ini pak, aku ingin pamit pada kekasihku'

Dan tangan itu tak kunjung melepaskan bahuku, rasanya sudah puas, aku membalikkan wajahku menghadap orang itu. Disana ada wajah yang sedikit  asing kupandangi mungkin karena sedikit berubah pada kumisnya dan rambutnya,. 

‘Hana sayang, apa kamu tak mengenaliku, ini aku sayang..'

Sedikit ku miringkan wajahku dan mendekati wajah laki-laki di depanku, 

‘Rioo,...., apa benar ini Rio,’ 

Aku langsung menghamburkan diriku kepelukan Rio, aku memeluk Rio se erat-eratnya sambil terus memanggil-manggil namanya.

 ‘Iya, Hana sayang ini aku, Rio kamu, maafkan aku sayang membuatmu menderita selama setahun ini, 


‘Rio, aku yang salah, aku tidak bisa menjaga kamu, aku gagal menjadi kekasih yang bisa memperhatikanmu’ 

‘Tidak Hana, aku yang salah, ini adalah kekhilafanku, aku yang tidak pantas untukmu Hana,'

‘Tidak Rio, aku tidak mau kau melepaskan cinta kita, aku mau kita tetap seperti dulu, tidak ada yang berubah Rio'

   'iya Hana sayang, makasih ya, peluk lagi sayang'


  Akupun memeluk Rio, dan tiba-ttiba dari arah belakang terdengar suara… 


'Happy birthday to you, Happy birthday to you Happy birthday to you…’ 

aku benar-benar kaget meri dan keluarga Rio semua menghampiri kami.

‘Selamat ulang tahun sayang, selamat ulang tahun sayang, semua berkata seperti itu, Aku tersentak kaget, siapa yang ulang tahun, aku mencoba mengingat-ngingat ya ternyata hari ini tanggal 8 februari, aku lupa kalau hari ini ulang tahunku. 

       Aku melirik Rio, begitu dalam pandangannya padaku, seakan memiliki makna, aku tak dapat menahan air mataku, antara bahagia dan terharu.


          Rio mengucapkan selamat ulang tahun padaku dan meminta maaf karena ulang tahunku setahun yang lalu dia telah mengingkarinya.


      Namun aku sudah melupakan semua itu, aku memaafkan Rio, aku berterima kasih pada Tuhan telah memberi kisah yang Indah hari ini, berterimah kasih pada Rio dan keluarganya karena telah merancang hari ini menjadi special. Karena ternyata Rio sudah bebas dari kemarin dan saat mamanya bertemu aku sebenarnya dia sudah melihat dan menyaksikan kami dari arah yang jauh sehinnga aku tak melihatnya. 


      Dan aku berterima kasih pada sahabatku Meri yang setia menguatkan aku selama terpuruk satahun ini dan ternyata Meri sudah tau tentang Rio hanya saja dia berusaha menutupi semua dariku karena permintaan Rio. ahh tega bangat Meri, dia juga yang memberi tahu kepada keluarga Rio kalau aku berada di kota ini, benar-benar hari ini aku bahagia, telah menemukan kembali cintaku.



Sekian
Aku tak cukup baik, ya aku tau itu!
Dari dulu, aku sadar akan itu, lalu mengapa? bukankah aku sudah memperingatimu sejak awal! kau tak bisa menerimaku seperti ini, lalu apa ? Karena dia yang bertandang gelar SKEP dan aku yang biasa-biasa saja, ?
Apa aku tak pantas? ya tak apalah, ini diriku, ini hidupku!
Kau datang untuk mengenalku kan?
Kau datang untuk mengenalku lebih dalam kan?
Atau kamu datang hanya karna sekedar penasaran! Aku tak perduli kau datang seperti apa, yang aku inginkan adalah menjadi diriku sendiri.

Kau serangga....
Apa kamu muak ya,? aku tak peduli kata kamu, yang aku tau aku ingin bermigrasi dalam duniaku sendiri. Jika kamu tamu dalam duniaku, jadilah tamu yang baik. Tapi kenyataannya kau hadir ibarat SERANGGA, kau ambil semua ekosistem hidupku, dengan melenyapkan seluruh kekuatanku, kau patahkan sayap-sayapku, hingga aku terpontang-panting mengembara. Kini ku tak bisa terbang lagi, kau hadang seluruh tujuanku, hingga aku harus menjadikanmu musuh terbesarku. 

Kini aku bersiaga...
Tapi tidak, musuh itu tak baik, kata ayahku janganlah mencari musuh,.... . Lalu apa ? apa yang aku harus lakukan untukmu, untuk membalas setidaknya untuk membuat sayapku sedikit tersenyum di alam sana untukku! Ya aku tak ingin punya musuh, apalagi padamu tamuku dalam duniaku, kau tak layak ku jadikan musuh, tapi kau pantas di sambut, sedikit senyum merona kepalsuan. Aku akan menyambutmu, ya aku sudah menyiapkan segelas madu asli, secangkir susu kental, ini untuk siagaku!
Aku tak ragu lagi...kelak kau hadir aku telah tulus MELENYAPKANMU....
Maafka aku, maafkan aku, agar kelak tak ada lagi tamu serangga sepertimu. 


 


 

Selasa, 21 Mei 2013




Sebuah Kisah perjalanan Cinta di Ujung Maut ini terjadi pada seorang gadis yang cantik.

Berawal dari keinginan yang kuat untuk memiliki cinta sejati seorang gadis mengiyahkan akan ungkapan cinta dari seorang pria semata lewat dunia maya. Mereka sama-sama berada pada satu kota namun si pria belum pernah melihat gadis itu, begitupun sebaliknya. Pria itu adalah seorang pelayaran yang sedang mengarungi samudera, ia mengenal wanita ini lewat seorang temannya. Sudah sebulan mereka menjalani hubungan dengan harmonis dan semakin akrab saja, karena komunikasi mereka lancar. Hingga pada hari dimana mereka di pertemukan oleh sang waktu.
'Hey,,,, apa kabar, ?'
'Baik, kalau kamu gimana ?'
'baik Juga?'
'Ra, gak nyangka ya, akhirnya aku bisa melihat kamu, ternyata kamu cantik dan manis..!'
'Iihh.. kamu gombal deh, hmm biasa nih pertemuan pertama, rayu gombalnya laris ..!
'Siapa yang gombal, beneran kok,...! Ra, kamu gak kecewa kan nerima aku, karna aku nih jelek, uda gitu hitam lagi..! 
'Yee, siapa yang kecewa kamu itu pangeran aku, kamu uda jauh-jauh datang cuma buat nemani aku malam tahun baru, Wan makasih ya...?
'Makasih kenapa sayang, aku kan ingin kamu bahagia, katanya kamu kangen jadi aku datang...!'
'Iyya Makasih , ini pertama kalinya aku bahagia, ada yang perduli tentang apa yang aku inginkan..!'
'Maksud kamu Apa sayang,.. emangnya belum ada yang kasi sulprise kaya gini ya..!'
'Belum, biasanya aku lalui malam tahun baru sendiri aja,!'
'Oohh, begitu, hmm kamu uda makan ,nih aku bawain makanan buat kamu..!'
 
'Wah, Makasih ya..!'
'Ya...aku juga bawa coklat nih buat kekasihku, semoga kamu suka ya...sayang..!'
'Waahh...sekali lagi makasih ya Wan, kamu orangnya baik..!'
'Iya dong , kan buat orang yang di sayang....!'

Sabtu, 11 Mei 2013

Siang tadi sebenarnya aku ragu untuk mampir di kos temanku karena setiap kali aku datang ia tak ada di kamarnya, tapi gak tau kenapa kakiku langsung mengarah seperti tidak sadar aku terus memasuki halaman padahal tidak ada tujuan yang jelas untuk mampir. Ya namanya rejeki gak kemana ternyata ada rejeki yang sedang menanti disana,.
Temanku sedang sibuk-sibuknya menyiapkan makanan, aku langsung menghampirinya oohh ternyata dia sedang membuat menu special  spagheeti.
Setelah masak kamipun makan berempat  (Aku, Mute, Nur,dan Mita), kami makannya pake sumpit ala-ala jepang gitu, heheh..........
senang, senang,, aku senang punya teman sepertimu, andaikan disini ada bukit pengen aku teriak dari bukit agar se  kota makassar dengar dan aku mau bilang " aku saluuuuuuuuuuuuuutttt ma kamu sobat, thanks ya hari ini kamu sajikan kami vegetables spagheeti rasanya yang enak, gurih dan pedas gak kalah sama yang lain.  
^_^
ini dia menunya....
 spagheeti


 Semoga suatu hari dapat lagi undangan makan-makan yang di adakan di kos teman saya bernama Siti mutmainnah. amin.

Jumat, 10 Mei 2013

Saat yang paling nyaman untuk tidur siang bagi Dina tiba-tiba  "Tok...tok.......tok...." (Terdengar dari balik pintu kamar kosnya)

"Siapa..."

"Tok.. tok.. tok..."

"Siapa sih....gangguin orang aja...." (dengan jengkel Dina membuka pintu.)

"Assalamualaikum Dina" (sapa Andi di depan pintu, Andi adalah kakak Dina yang baru tiba dari kampung)

"Ahhhhh,,,,,,Kak Andi....." (langsung memeluk Andi) "Walaikum Salam Kak, kok gak bilang kalau mau datang..."

"Kan suprise dari kaka dong.......hehehe..."(tertawa sambil meletakkan kantong plastik dan dos yang entah apa isinya)

"Iiiihhh,,, kakak banyak bawa oleh-oleh buat Dina ya,,,," (sambil melirik-lirik kantong dan dos)

" iaa thuu.....Kakak bawain kamu oleh-oleh yang paling special"

"apaan thu kak, aku penasaran...." (sambil memandang kakaknya)

" bentar aja deh kamu buka..., kakak masi capek bisa kamu buatin kopi"

"Ya uda, aku beliin dulu Kopi good day di warung ya kak.."(Dina pergi ke warung)

Setelah 5 Menit Dina muncul lalu segera menyeduhkan segelas kopi pada kakanya

"Kak, Dina buka ya oleh-olehnya......" (Sambil mulai merobek dos yang terikat)

" Hahahahaha.... pasti ini kiriman mama kan buat aku... mama paling tau deh selera aku .."(sambil mengenggam buah terong yang besar di tangannya)

" Hehehehe ia mama cerita kamu doyan sekali makan sayur Terong Pedas yang di goreng kan...nah mama titip ini sekalian sama resepnya yang mama tulis buat kamu, mama bilang kamu bisa belajar masak sendiri sayurnya..." (sambil menyodorkan selembar kertas yang berisi resep)

" Gimanapun masakan mama pasti akan lebih enak kak  hehehe...."

" iyalah mama kan uda penggalaman beda thu ma kamu gak tau masak paling-paling ntar asin masakannya..."(andi tertawa sambil meledek adiknya )

"Yee.... emangnya uda pernah rasa masakan Dina.., belum kan.., makanya kakak jangan remehin Dina dong..."

"Ya udah coba buktiin sama kakak kalau masakan kamu itu gak kalah sama masakan mama, kamu kan anak mama jadi harus bisa dong kayak mama..."

"ia..ia.. aku bakalan masak sekarang, hmm,, kakak pasti laparkan...." (sambil meledek kakaknya)

"Gak juga.. kakak cuma pengen cicipin masakan kamu , pengen tau kamu pintar masak gak, ,,,"

"Ya uda Dina masakin ya, tapi kakak bantu Dina ya..."

" Laa.. kakak kan masi capek Din, masak kamu suruh kakak sih....hmm ya uda kaka bantu dengan do'a aja ya...hehe "

"Ya uda kakak istirahat aja , sambil bacain bumbu-bumbu di resepnya mama itu, oke.."

(Dina segera mempersiapkan semua alat dan bahan untuk memasak adapun resep tulisan mama adalah sebagai berikut :
1 buah terung cuci lalu potong menjadi 4 bagian
2 buah telur di tambah tepung 200 g di lumuri pada potongan terong lalu goreng sampai matang
bawang putih 2 siung di iris halus dan tumis lalu masukin irisan tomat masukin 1/2 sendok teh garam, 1/2 sendok teh lada halus, 2 sendok kecap manis, tambahkan air putih 1/2 gelas dan campuran maizena dan air lalu aduk.
(Demikain resep kiriman mama Dina,)

Setelah masak, Dina lalu membangunkan kakaknya Andi, karena takut hidangannya keburu dingin.

'Wah.. ini masakannya kalau di pandang sepertinya enak,tapi kalau dicicipi rasanya seperti apa ya..." (lagi-lagi andi meledek adiknya )

" Ya uda kakak coba saja dulu baru ngomong , di jamin kakak gak akan nyisahin sebutir nasi di piring heheh..." (akhirnya mereka makan barengan dan benar kata Rina )

"Wah,,,, kakak ini lapar apa doyan ya,, samapi nambah 2 kali begitu , hehe..."( Dina meledek kakaknya yang tengah kekenyangan)

"Ya kakak doyan dong, kamu ternyata pintar juga ya hampir sama kayak masakan mama rasanya,.."

"Iya dong , aku kan anaknya mama calon pewaris mama hehehe..." (Dapat pujian dari kakaknya Dina pun tersenyum malu-malu.)
Percakapan terus berlanjut hingga Dina dan kakanya harus berpisah lagi karena kakaknya harus pulang lagi.



NOTE :( Kasih ibu sepanjang masa, itulah gambaran seorang ibu, ibu adalah malaikat utusan Allah yang di percayakan untuk menjaga kita para anaknya, membimbing, dan melindungi kita. kasih ibu yang begitu besar, ia tak pernah melupakan anaknya walau anaknya jauh ia akan terus memantau, mensupport, dan mendidik. ibulah yang paling mengerti kita. meski sekalipun kita tak pernah berbagi dengannya. sebagai seorang anak marilah kita menyayangi ibu kita, memberi yang terbaik untuk beliau, jangan sekali-sekali menyalahgunakan amanah dan kepercayaan ibu.)









Selasa, 07 Mei 2013

Rasa malas itulah yang menguasaiku akhir-akhir ini, subuh kemarin aku terbangun dan antara sadar dan tidak sadar ternyata suara adzan subuh sudah terdengar. Dengan malasnya aku memaksa diri bangkit dari pulau empukku membuka agenda merencanakan aktivitas , menyusun semua jadwal untuk hari itu, seusai sholat subuh aku mempersiapkan bajuku untuk aku gunakan hari itu, ternyata rasa ngantuk yang tidak tertahankan , akupun coba baring dan ternyata tanpa sadar aku tertidur hingga terbanggun tepat jam 9.00 pagi.

Wooww... aku kaget, akhirnya jadwal pertama gagal yaitu mengambilkan deposit kakakku yang di kampung, juga memperbaiki susunan draf dan memprinnya segera ini semua sudah melenceng dari jam yang sudah aku atur dari semalam.

Dengan tergesa-gesa aku segera membuka laptopku untuk meperbaiki hasil koreksian pembimbingku kemarin , dan akhirnya ya selesai juga dan segera memprinnya, seusai memprinnya aku melirik jam ternyata sudah menunjukkan jam 11.00, dengan lesu aku bangkit segera mandi dan seusai mandi timbullah dalam pikiranku untuk menunda semua kegiatanku karena aku merasakan badanku mengigil dan lesu, namun jika tidak aku selesaikan hari ini bagaimana aku bisa cepat selesai dan naik level selanjutnya,?. Akupun memaksakan bangkit dari rasa malasku dan berusaha semangat dalam kondisi yang begitu lemah. Aku menelpon pembimbing utamaku dan beliau menyuruhku datang di kantornya, ya walau lumayan jauh akupun bergegas siap meluncur kesana, wahh ternyata hari itu panasnya sangat menyengat, aku rasa naik motor lebih baik tapi aku harus merepotkan temanku yang akan mengantarkanku kesana , aku berpikir dua kali untuk itu aku memutuskan untuk berangkat sendiri berhubung aku gak suka merepotkan orang lain akhirnya aku naik angkot, di bawah terik matahari aku menunggu angkot hampir setengah jam dikarenakan perbaikan selokan di pinggir jalam menyulitkanku untuk menahan angkot (pete-pete) , bukan tak ada tapi kesulitan angkot menuju pinggiran juga karena banyak kendaraan yang berdesak-desakan sebab jalanan begitu sempit akibat galian loging di pinggir jalan, ahh rupanya hari itu aku harus bertahan di bawah terik matahari yang sangat menusuk di kepala. setelah setengah jam menunngu akhinya legah juga kini aku sudah berada di atas pee-pete walau macet dan panas aku gak boleh mengeluh, satu jam dalam perjalanan membuatku hampir sangat lelah dan pusing, apalagi perut yang dalam kondisi kosong, setiba di kantor pembimbng aku sempat di tegur karena terlalu lama, aku memang terlambat tapi bukan unsur kesengajaan, nah usai sudah ketemu pembimbing utama sekarang ketemu pembimbing pertama, yah aku telpon tapi gak di angkat, aku sms dan tidak di balas, aku harus bertemu dengan pembimbing pertamaku ini karena sudah dua kali aku memeriksa pada pembimbing yang lain namun pada bapak ini sama sekali belum pernah. Aku menanyakan pada temanku yang katanya dia mau kerumah pembimbingku ini berhubung pembimbing kami sama, aku ingin ikut, tapi ohh ternyata dia sudah bersama temannya, ahh sudahlah aku harus ke kampus dulu.

Karena waktu yang begitu singkat aku terpaksa harus jalan pintas menuju kampus, aku mencoba berjalan kaki seperti dulu saat semester pertama saat itu masi numpang di rumah om, sekitar sekilo, sebenarnya aku bisa naik becak tapi akan makan ongkos mahal sementara uang di tangan hanya pas-pasan, karena naik angkot terlalu mutar-mutar jadi jauh sementara pembimbing dua sedang berada di kampus dan harus tepat waktu kalau mau bertemu beliau, katanya ada seminar jadi beliau akan hadir, nah target harus tepat waktu kalau tidak kapan lagi beliau akan ada, setelah aku sampai di kampus ternyata oh ternyata pembimbingku ini tidak datang, ahh lagi-lagi aku pusing, aku coba menelponnya lagi dan ternyata beliau ada di palopo, ahh kenapa tadi bilang akan datang menghadiri seminar, aku sabar sajalah, berhubung aku masi capek ku coba dulu mengisi perut.

Aku menuju kantin dan aku bertemu teman di jalan dia menyapaku dan berkata "kamu cari pembimbing pertamamu , beliau ada di ruangan dosen ", aku senang dam hampir jinkrak-jinkrak saking senangnya karena gak ketemu pembimbing kedua namun pembimbing pertama datang heheh.., dan aku menunda ke kantin langsung segera mencari beliau karena aku harus bertemu agar aku tak mencarinya ke rumahnya yang sangat jauh, aku melihat beliau di dalam ruangan dan senangnya akhirnya pembimbing yang paling susah aku temui ini sekarang di depan mataku, aku harus antri dan agak lamu juga, sesekali aku mengeluh karena sangat lapar dan rasa loyo yang tak terbendung lagi, akhirnya tiba giliranku, aku hanya meyodorkan dan beliau pun meminta agar aku mengambil drafku usai di periksa karena beliau akan membacanya di rumah, ya alhamdulillah asal jangan terlalau lama ya pak hehehe,,,

akhirnya aku senang dan legah walau tadi sempat ingn menunda semuanya namun akhirnya rasa malas itupun bisa aku kendalikan, akupun menuju kantin, hampir saja aku tepar karena belum makan dari pagi.

Usai makan kok rasanya bukan segar malah tambah loyo, dan panas dingin, akupun pulang di kos, aku baring-baring dan tertidur hingga terbangun tengah malam rupanya aku sangat kecapean, karena sejak seminggu ini perjalananku hanya mondar-mandir seperti ini, mencari alamat-alamat pembimbing, semuanya membuat tenaga terkuras, belum lagi aktivitas malam untuk mengetik semua draf skripsiku, tapi demi masa depan aku harus kuat dan ini belum seberapa, hingga hari ini aku masi terbaring bukan niat bermalas-malasan tapi aku memang benar-benar drop alias tepar, mudah-mudahan besok kondisi semakin baik untuk melanjutkan aktifitas lagi. amin.

Minggu, 05 Mei 2013




          Rasa Cinta yang seketika datang, setelah penantian panjangku saat mengakhiri kisah dengan seorang mantanku dulu, akan ada peperangan hati yang terjadi  lagi dan lagi . Benar kali ini bukan peperangan antara hati dan pikiranku saja, namun lebih dari itu , ini peperangan antara 3 hati, aku, kamu dan dia.....

Selasa, 30 April 2013

Ia mengenggam tangannya di bawah remang-remang cahaya pelita Rianni terus menatap jalanan dari balik jendela kamarnya, mengaharapkan akan ada cahaya senter atau obar yang akan terlihat di jalan itu, ya sudah pukul 22.00 ayah Rianna tak kunjung pulang ke rumah, hati Rianna yang kian gelisah tak dapat menahan hasrat untuk menyusul ayahnya ke ladang. Walau ini tengah malam Rianna sudah nekat untuk mencari ayahandanya. Rumah yang sepi dan terletak agak jauh dari para tetangganya membuat suasana rumah itu seolah tak berpenghuni. Mereka hanya hidup berdua, ayah dan anak. Karena ibu Rianna sudah lama meninggal karena tertindis pohon saat pertama mengarap hutan untuk di jadikan ladang/ kebun pada saat itu Rianna masi sangat kecil.

Sang ayah membesarkan Rianna sendiri selama 7 tahun, tepat Rianna berumur 2 tahun ibunda Rianna telah menghadap sang khalik. Kini usia Rianna sudah berjalan 9 Tahun, ia duduk di kelas 3 SD inpres pakareme. Rianna adalah anak yang sangat rajin sekaligus cerdas di sekolahnya. Hanya saja faktor ekonomi membuat Rianna harus turut berperan membantu sang ayah di ladang sepulang sekolah. Dengan sebuah obor di tangannya Rianna mulai menuruni anak tangga rumahnya, ia akan pergi menyusul ayahnya di ladang, meski di tengah malam rianna tak peduli lagi, ia buang semua rasa takutnya, yang tersisa adalah rasa gelisahbercampur cemas , apa yang tejadi pada ayah ? pertanyaan itulah yang terus memburu di hatinya, di sepanjang perjalanan rianna harus melewati sungai yang tidak terlalu besar namun sungai itu pernah menelan korban yang sedang terhadang banjir, karena sungai itu sangat meluap saat banjir di musim hujan berbagai titik pertemuan sungai semua menyatu di sungai itu . Sepanjang perjalana Rianna banyak mendengar suara-suara burung dan suara aneh lainnya, suara khas ketika berada di hutan berantara, namun rianna tak perduli rianna terus berjalan sampil menyebut-nyebut ayahnya dalam hati,berusaha membuang rasa takut karena tak sabat bertemu dan melihat keadaan ayahandanya. Setiba di gubuk Rianna memanggil-manggil ayahnya,' ayah,,, ayahh,, ayah,,,' namun suara balasan dari ayah tak juga terdengar suara Rianna kini gemetar memanggil ayahnya, ia sangat khawatir akan keadaanya ayahnya yang tak dia temukan di gubuk ladang. hatinya amat sedih, takut sekali akan sesuatu terjadi pada ayahnya, 'ya allah dimana ayahku sekarang berada, riana mulai mengusap air matanya yang tak terbendung lagi meski ia berusaha tegar namun tangis itu sudah meledak, ia terus mencari-cari hingga ke tengah ladang mengikuti semua jejak pangkasan dari pohon kakao ayahnya siang tadi, nampak daun-daun itu masi segar pertanda baik bahwa ayahnya masi bekerja siang tadi. Sudah sejam Rianna mencari-cari ayahnya namun tak kejnung ia temukan terpaksa Rianna memutuskan untuk pulang ke rumah, meski pencariannya malam ini gagal namun ia berharap esok hari ia dapat bertemu ayahnya dengan keadaan sehat. Di tengah perjalanan Rianna di kejutkan oleh suara aneh , suara itu berasal dari tempat yang sangat gelap, Rianna sangat ketakutan dan hendak berlari, namun ia penasaran ,lalu mutuskan mendekati sumber suara itu dan akhirnya dia di kejutkan oleh si momo anak anjing yang selalu bersama ayahnya di ladang, momo adalah anjing ayahnya yang baru-baru di berikan dari tetangga , momo ternyata tengah mengogongi se ekor kura-kura yang mencari makan di tengah hutan itu.

Rianna mengendong hendak membawa pulang si momo , namun di tengah jalan momo sangat rewel dan pas di tengah sungai momo hendak meloncat dari pelukan Rianna akhirnya obor di tangan Rianna pun jatuh terlempar akibat momo yang tak mau diam. Rianna terus melanjutkan perjalananya tanpa obor artinya ia hanya mengandalkan mata kaki untuk melangkah, meski kasarnya rumput-rumput berdri ia terus melanjutkan langkahnya pulang. Menddekati perkampungan ia hendak menuju rumah tetangga ingin menanyakan ayahnya namun pintu-pintu rumah tetagga itu sudah tertutup tak mungkin ia menganggu peristirahat mereka. Setiba di rumah, Rianna melangkah menaiki anak tangga dengan langka yang gonta dan membuka pintu perlahan-lahan dan ia di kejutkan suara yang memangglnya " Rianna ,,, kamu dari mana anakku ,, dari tadi ayah mencarimu, ' Rianna sangat kaget dan senang karena suara itu suara ayahnya, bagaikan mimpi bagi rianna ternyata ayahnya baik-baik saja. ' ayah kenapa pulangnya terlmbat ayah, ? aku baru saja mencari ayah di ladang namun ayah tak disana, kata Rianna.  Maafkan ayah Rianna ayah tengah mencari ikan di sungai Bose,sudah lama kita tidak makan ikan anakku ayah mencarikan ikan untukmu karena kita tak punya uang untuk membelinya, Kata ayah . Merasa seperti itu Rianna langsung memeluk ayahnya, ternyata ayahnya sangat menyayangi nya. Tapi ayah kenapa harus selarut ini ?, sekali lagi maafkan ayah tadi ayah nyasar di hutan karena gelap dan senter ayah pun sudah tak bisa di nyalakan lagi, kata ayah sambil memeluk anaknya dan ayah Rianna merasa bersalah juga karena telah membuat anaknya kawatir. baiklah ayah mana ikan yang ayah dapat, kata Rianna, dan ayahnya pun menunjukkan sebuah gantungan ikan dan beberapa udang.

Semenjak kejadian itu, rianna sepulang dari sekolahnya selalu ikut membantu ke ladang , ini agar ia tak terpisahkan dengan Ayahnya, meski harus berlarut-larut asal ia dapat bersama ayahnya terus. pada suatu hari terjadi hujan yang sangat deras sang ayah masi di ladang sementara rianna tak dapat menemani ayahnya di ladang karena hujan deras iapun harus menunggu redah namun hingga menjelang tengah malam hujanpun tak berhenti, lalu ia tertidur sambil membayangkan Ayahnya yang berada di gubuk ladang mereka.

Ke esok harinya Rianna mendapat kabar bahwa ayahnya semalam bersama tetangganya hendak pulang namun tetangga itu tak mau melanjutkan perjalanannya menyusuri sungai karena sungai itu airnya semakin besar, ketika itu Rianna bersama tetangganya pergi mencari Ayahnya dan alhasil sang Ayah tak di temuka di ladang, dengan sedih bercampur duka Rianna dan warga lainnya menelusuri semua hutan dan sungai, dan akhirnya ayah Rianna di temukan oleh salah satu warga kampung sebelah terlentang di bawah sederetan tumpukan kayu yang terbawa air sunggai saat banjir, alangkah sakit hati dan berdukanya Rianna ketika melihat sang Ayah tercinta kini terbaring kaku di depan matanya, semua warga berduyun-duyun melihat almarhum dan rianna pun hanya bisa menanggis. Setelah kejadian itu rianna tak lagi terlihat ceria, ia sangat pendiam , pemurung dan juga seperti sangat terpukul.

" Hanya Rianna Yang Sangup, kutipan ini di ambil dari kisah anak tetangga di kampung
 anak yang sekarang di tinggalkan oeh kedua orang tuanya,

Note : "Segala sesuatu yang terjadi di dunia, sudah menjadi garisan Ilahi, kita tak pernah tahu kapan dan dimana kita akan meninggalkan dan di tinggalkan oleh orang-orang tercinta , maka dari itu kita Dianjurkan memperdalam kajian ilmu agama, karena dengan iman kita dapat menerima kenyataan, karna kita percaya  di balik semua itu Allah memiliki Rahasia yang Indah".

Kamis, 25 April 2013



      Dolo dan Dudo adalah dua anak kelinci yang selalu tak ingin pisah dari ayahnya, mereka sangat manja semenjak ibu mereka pergi meninggalkan kedua anaknya ini. Kedua kelinci bersaudara ini berselisih umur 2 tahun. Dolo 2 tahun lebih tua dari adiknya Dudo, saat itu usia Dolo  hampir 5 tahun sedangkan adiknya

Warung blogger