Kamis, 06 Juni 2013

     Sudah tiga jam aku terpaku disini menunggu dan menunggu, seperti katamu tadi lewat via telepon bahwa kau akan hadir malam ini. 

    Ku hibur diriku dengar mendengarkan lagu dari radio hanphone kulu-kuluku. Malam ini ulang tahunku disini sudah tersedia sekotak tar dan lilin yang masi utuh belum tersentuh korek api. Ia sepertiku tak sabar menunggumu, tak sabar melihat sosokmu dari balik pintu bersama senyum manismu yang tidak asing untukku, yang selalu membuatku merindukanmu.  
   Tiap saat ku lirik jam tanganku kaupun tak kunjung datang hati merawang jauh di langit dengan seribu tanya mengapa kau tak jua hadir.  Sayang malam ini tak istimewa, tak ada tamu dan tak ada sajian apapun hanya kita dan sekotak tar, dan minuman segar. Sebentar lagi 8 februari akan tiba, mengapa tak juga kau hadir. Aku mengambil hanphone, kutekan tombol, tertera calling ke nomormu. Namun ternyata apes, pulsa tak cukup lagi untuk menghubungimu. 
    Malam semakin kelam dan sunyi, hanya desingan kendaraan satu persatu terdengar, berharap satu diantara desingan itu adalah suara Honda kesayanganmu. Tapi ternyata itu Cuma harapku saja. 
     Kembali aku merangkul kue tar ini ku cabut satu persatu lilin yang mengitarinya lalu ku masukkan dalam kulkas. Aku melangkah ke kamar dengan gontai, tak terasa sebulir turun jatuh di lantai di susul sebulir lagi di sebelahnya, lama-lama berbulir-bulir lagi, pikirku tak bisa di ajak berdamai rasa kecewa yang teramat dalam. 
     Kubaringkan tubuhku dan ku benamkan mata dalam kesunyian hingga ku terlelap dalam keheningan. Jam deker  berdering, pertanda subuhpun tiba, aku melirik hanphone berharap ada sms dari Rio, namun yang ada hanya sms dari sahabatku meri ‘sweet seventeen say, semoga sukses dan langgeng bersama Rio’.  
'Rio bagaimana aku bisa langgeng mery, malam ini saja tak ada ucapan darinya, apa ini yang di bilang langgeng, semoga saja doa’mu di jamah Allah mer, sending…, akhirnya sms balasan terkirim juga.  

Tepat jam 08.30  aku sudah berada di kampus, pagi kali ini aku temakan ‘emosi’, ya aku tak ingin bertemu Rio. Aku masi benci padanya, kemana ia semalam mengapa mengingkari, mengapa juga tak sms, aku amat emosi. 
 
      Namun hingga sorepun aku tak juga mendapat kabar dari Rio di kampus, aku kangen padanya, apa dia sudah berubah?.
     Aku menanyakan kepada teman-temannya namun mereka juga tidak tau. Ku coba menelpon ke nomornya namun nomornya tidak aktif, aku sangat khawatir ada apa dengan Rio.
Ya Allah aku harus mencari Rio kemana, di kontrakannya pun Rio tak aku temukan.
        Sebulan sudah aku terus mencari Rio, bersama Mery kawanku yang selalu setia menemaniku, namun hasilnya tetap nihil Rio menghilang entah kemana, ibarat di telan bumi. aku sangat sedih, frustasi dengan kepergian Rio. 
'Kemana kamu Rio, mengapa kau tega meninggalkanku tanpa kabar apapun, apa kau lupa padaku yang sudah 6 bulan setia menemanimu, tidak kah kau tau besarnya cinta ini untukmu, selama 6 bulan apakah tidak cukup kenangan yang kita lalui, Rio dimana kah kau berada'

        Waktu demi waktu terus bergulir, aku tak boleh diam saja, aku terus mencari tau keberadaan Rio. Aku mendatangi rumah orang tuanya, dan mereka tak mau memberi tahuku, walau aku tau mereka mungkin tak suka padaku tapi aku berusaha membujuk agar keluarga Rio mau jujur padaku, satu persatu aku datangi termasuk sepupu-sepupu Rio, namun aku kecewa mereka sengaja tak mau mengatakan. Aku semakin sedih tapi aku tak menyerah sampai disitu.  

           Setahun sudah berlalu, seperti kataku aku tak mau menyerah mencari tau keberadaan Rio, hingga suatu hari aku nekat menyewa sebuah penginapan di kota asal Rio. 


       Aku berniat hendak mengikuti kemana perginya orang tua Rio, hanya satu harapanku aku harus berhasil dengan usaha ini. Aku terus membuntuti orang tua Rio, hingga aku berhasil mengikuti mereka menuju sebuah tempat terpencil, aku tak tau tempat itu menuju kemana, yang aku tau disana ada sebuah tembok besar tak berpenghuni di sekelilingnya ada pagar beton dan sedikit pohon yang rindang. 


        Aku bertanya-tanya apa yang mereka cari disana.  Aku terus mendekati dan perlahan-lahan hingga aku terpekik dengan sebuah tangan yang meremas pundakku dari belakang, dengan gemetar aku membalikkan wajahku, rupanya pak polisi dengan seragamnya yang lengkap,

   
    ‘Hei non, kenapa kamu mengintip disini, kamu siapa ayo ikut aku kedalam'. 
'Titiiidak pak, ak..akku hanya ingin memastikan tempat apa ini soalnya saya penasaran pak,' aku terbata-bata,


'Hah alasan kamu ayo ikut saya ke dalam',
'Pak benaran tolong lepaskan saya, saya benar-benar hanya penasaran pak, saya melihat gudang ini antik dengan suasana yang sepi pak membuat saya penasaran, hanya itu saja kok pak''.

 'Baiklah, saya terimah alasan kamu, tapi kamu tidak boleh sembarang main kesini, ini tempat terlarang hanya orang-orang tertentu yang boleh kesini, mengerti kamu..!'


 'Baik pak, maaf ya pak, permisi pak..! 
Sayapun berlalu dengan penasaran saya yang dalam, dan keyakinan saya bahwa Rio ada di dalam sana. 
Bunyi Dering hanponku mengangetkanku, Meri menelponku, 

‘Ya halo Meri ada apa?’ 

‘Hana sayang kamu kemana sih, kenapa dua hari ini kamu tidak masuk kampus’!

 'Maaf ya Mer, aku lagi kurang enak badan, jadi aku cuti dulu beberapa hari, ya udah Mer aku mau istirahat dulu ya,  

   ‘ ehh,,tunggu…! 

 Tiba-tiba aku langsung menutup hanphoneku aku tak mau Meri tau apa yang aku lakukan sekarang, aku berusaha berjuang sendiri tanpa sepengetahuan siapaun. 


        Kembali aku memandang tembok besar itu, aku mendekati lagi dengan hati-hati aku bersandar di tembok itu, batinku semakin kuat mengatakan kalau Rio ada dalam tembok besar itu, tapi apa yang Rio lakukan di dalam sana, untuk apa dan dengan siapa, aku penasaran. 
Lalu aku menuju perkampungan warga, aku bertanya pada seorang ibu.
'Bu, Permisi mau numpang nanya boleh ya Bu…?' 
'Ohh iya silahkan Nak ada apa.. !
'Begini Bu, saya orang baru disini dan saya tertarik dengan suasana tembok besar yang disana itu, kalau boleh tau itu apa ya bu,?.. 

Oohh.. itu penjara nak, disana tempat orang-orang yang di hukum atau di kurung saat melanggar hukum'. 

'Ooh jadi itu penjara ya bu, makasih ya informasinya Bu..!'
'Ya nak..memangnya dari mana ya nak kok tidak pernah tau lokasi disini?'
Ohh saya dari Sulawesi bu, saya ke sini mau cari teman saya, saya permisi dulu ya bu'
Oh iya nak, hati-hati ya.. Iya Bu’ makasih'

'Penjara....?'
Hatiku bertanya-tanya.
Lalu apa kesalahannya, selama ini Rio baik-baik saja, anaknya baik dan sopan, lalu mengapa, ada rahasia yang tidak aku ketahui. 

Aku segera, menelpon Meri, namun belum sempat dia angkat aku sudah menutupnya kembali sebab mobil orang tua Rio sudah melintas di depanku untung mereka tak mengenaliku.

Aku segera mendekati tembok itu, aku memeluknya, aku merindukan Rio yang ada di dalam sana, dia pasti juga sangat merindukaknku, dan aku yakin itu. 

Aku memetik satu tangkai bunga kertas, lalu ku sodorkan di bawah tembok itu, semoga Rio merasakan kehadiranku di balik tembok ini. Aku berdo’a setelah itu aku mengambil sebutir batu, aku mengariskan di tembok itu. Aku sengaja menulis garis untuk menandai berapa banyak aku berkunjung disana.  Meri menelponku lagi, 

'Halo Meri',

Halo Hana kamu dimana aku ke kontrakanmu ya.., aku khawatir dengan keadaanmu Han..! 
‘Meri, aku sekarang ada bandung, kamu jangan kuatir, aku baik-baik saja’ 
‘Whattt….! Kamu ngapain di bandung kamu bohong tadi, kamu kenapa tidak kasi tau..! 
‘Maaf Mer, aku ingin caritau Rio sendiri saja, aku tau sekarang Rio dimana’ 
‘Apa kamu tau Rio, dimana Hana, dimana Hana kasi tau aku'. ‘Besok aku kasi tau kamu, uda dulu ya Mer, aku mau pulang daa..! aku menutup telpon dan menuju penginapanku. 


Aku menerawang ke langit-langit kamarku, mencoba memecahkan teka-teki ini, aku mengambil foto Rio, aku memandangnya, memeluknya hingga aku terlelap. 

Esok harinya, aku datang di tembok besar dan memeluk tembok itu, seolah Rio pun memelukku dari balik tembok itu, dan lagi-lagi aku di kejutkan dengan tangan seseorang di bahuku, tersentak kaget aku segera balik, dan kali ini bukan pak polisi yang kemarin menegurku, tapi kali ini mamanya Rio.

Aku seperti di sambar geledek, diam dan tak berkutik, tetes air mataku tak aku rasakan lagi menetes, badanku kaku seakan ingin jatuh. 

'Nak, apa kamu baik-baik saja'

 Kali ini suara itu mengagetkan aku.  Mamanya Rio menyentuh pipiku, dan menghapus air mataku, seakan mengerti dengan apa yang aku rasakan.

Aku langsung memeluk mamanya, dan diapun seolah ikhlas aku merengek di pundaknya. 
'Maafkan ibu, nak,.. selama ini ibu tidak memberi tahukanmu tentang Rio'
'Bu, Rio ada dalam sana kan Bu, Bu kenapa Rio tidak mengabari aku, kenapa Rio menyembunyikan dari aku Bu,'
 Aku menangis dan sulit ke rendahkan tangisku. 

'Tapi kamu jangan menangis dengan menangis ibu takut menceritakan kejadian Rio'

Aku menahan isak meski sesak rasanya, aku coba tenang dan siap menerima cerita dari mamanya Rio. 

‘Nak Hana, ini adalah permintaan Rio, agar jangan sampai kamu tau tentang hal yang menimpahnya, tapi karna kamu sudah berusaha sekuat-kuatnya untuk mencari tau Rio, ini membuktikan bahwa kamu benar-benar tulus mencintainya,’  

Bu, aku sangat mencintai Rio Bu, aku tidak bisa melepaskan Rio begitu saja, apapun keadaannya Rio tetaplah Rio yang baik yang aku kenal Bu,..!

‘Baiklah Nak, setahun yang lalu, Rio, sempat terperangkap dengan narkoba, dia di tangkap polisi di kontrakan sebagai pengedar narkoba, namun dia tidak memakainya hal itu menyeretnya sampai berada dalam bui ini..!'

           Aku sangat kaget, serasa tidak percaya dengan semua perkataan mamanya Rio, selama enam bulan aku menemani Rio mengapa banyak hal yang aku tidak tau pada dia. Aku benar-benar kaget sekaligus menyesal kenapa aku tidak bisa menjaga Rio dengan baik sebelum ia terperangkap dengan barang haram itu. 


'Sekarang, apa boleh bertemu Rio bu, aku sangat merindukannya, aku ingin menyapa Rio Bu'

'Percuma Nak, Rio tidak pernah mau bertemu dengan siapapun bahkan dengan kamipun Rio enggan' 

        Aku semakin sedih mendengar kisah kekasihku, sekaligus aku bersyukur karena mamanya Rio sudah bercerita, kini aku merasa sedikit legah. 


         Hari itu, aku rasa aku harus balik ke Sulawesi, walau berat aku meninggalkan Rio, tapi aku berjanji aku akan setia menuggu Rio. 


    Sebelum berangkat ke bandara aku mampir ke tembok besar itu lagi, aku ingin pamit pada Rio sembari mengambil sebutir batu, dan mencoret sebuah garis di dinding itu. Disana sudah terdapat 6 garisan tandanya sudah enam kali aku berkunjung di sana. 


      Aku memeluk tembok itu, aku merasakan ada sesuatu di bahuku, aku tau, itu adalah pak polisi atau ibu Rio, namun aku tak kaget lagi malah aku membiarkan tangan itu terus di pundakku. Sambil membelakanginya aku berkata’ 


'Biarkan 5 menit aku memeluk tembok ini pak, aku ingin pamit pada kekasihku'

Dan tangan itu tak kunjung melepaskan bahuku, rasanya sudah puas, aku membalikkan wajahku menghadap orang itu. Disana ada wajah yang sedikit  asing kupandangi mungkin karena sedikit berubah pada kumisnya dan rambutnya,. 

‘Hana sayang, apa kamu tak mengenaliku, ini aku sayang..'

Sedikit ku miringkan wajahku dan mendekati wajah laki-laki di depanku, 

‘Rioo,...., apa benar ini Rio,’ 

Aku langsung menghamburkan diriku kepelukan Rio, aku memeluk Rio se erat-eratnya sambil terus memanggil-manggil namanya.

 ‘Iya, Hana sayang ini aku, Rio kamu, maafkan aku sayang membuatmu menderita selama setahun ini, 


‘Rio, aku yang salah, aku tidak bisa menjaga kamu, aku gagal menjadi kekasih yang bisa memperhatikanmu’ 

‘Tidak Hana, aku yang salah, ini adalah kekhilafanku, aku yang tidak pantas untukmu Hana,'

‘Tidak Rio, aku tidak mau kau melepaskan cinta kita, aku mau kita tetap seperti dulu, tidak ada yang berubah Rio'

   'iya Hana sayang, makasih ya, peluk lagi sayang'


  Akupun memeluk Rio, dan tiba-ttiba dari arah belakang terdengar suara… 


'Happy birthday to you, Happy birthday to you Happy birthday to you…’ 

aku benar-benar kaget meri dan keluarga Rio semua menghampiri kami.

‘Selamat ulang tahun sayang, selamat ulang tahun sayang, semua berkata seperti itu, Aku tersentak kaget, siapa yang ulang tahun, aku mencoba mengingat-ngingat ya ternyata hari ini tanggal 8 februari, aku lupa kalau hari ini ulang tahunku. 

       Aku melirik Rio, begitu dalam pandangannya padaku, seakan memiliki makna, aku tak dapat menahan air mataku, antara bahagia dan terharu.


          Rio mengucapkan selamat ulang tahun padaku dan meminta maaf karena ulang tahunku setahun yang lalu dia telah mengingkarinya.


      Namun aku sudah melupakan semua itu, aku memaafkan Rio, aku berterima kasih pada Tuhan telah memberi kisah yang Indah hari ini, berterimah kasih pada Rio dan keluarganya karena telah merancang hari ini menjadi special. Karena ternyata Rio sudah bebas dari kemarin dan saat mamanya bertemu aku sebenarnya dia sudah melihat dan menyaksikan kami dari arah yang jauh sehinnga aku tak melihatnya. 


      Dan aku berterima kasih pada sahabatku Meri yang setia menguatkan aku selama terpuruk satahun ini dan ternyata Meri sudah tau tentang Rio hanya saja dia berusaha menutupi semua dariku karena permintaan Rio. ahh tega bangat Meri, dia juga yang memberi tahu kepada keluarga Rio kalau aku berada di kota ini, benar-benar hari ini aku bahagia, telah menemukan kembali cintaku.



Sekian
Reactions:
Categories: ,

12 komentar:

  1. Cerita yang mengharukan :'{

    BalasHapus
  2. Petualangan cinta yang tampaknya akan berakhir,

    Hayuk ikutan Giveaway saya http://arrrian.blogspot.com/2013/06/arr-rians-giveaway.html :D

    BalasHapus
  3. wah ada GA ya mas,,, asyikk semoga aku punya waktu ya mas

    BalasHapus
  4. Cerpen yang Mantap...!!!
    FOLLOWED

    BalasHapus
  5. panjang juga ya, tapi lumayan.
    tapi masih banyak urusan yang lebih penting, dari sekedar kata cinta :)

    BalasHapus
  6. kasian rio, makanya kalo pake gituan mesti sembunyi2, kalo ketengkep kan dipenjara jadinya. tapi kayaknya ada paman sy di sana, coba hubungi dia pasti dibantuin melarikan diri, hihi. (ajaran sesat alayer, gak boleh ditiru)

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAhahah , bang bisa ajja ne cm cerita , yaya boleh lah itu omx di kenalin ma yg nulis ajja ,wkwkw

      Hapus
  7. kalo tak salah hampir setahun hanya berhadapan dengan tembok penjara....demi jumpa sang kekasih...betul2 kesetiaan yang patut diacungi jempol.....nice story :-)

    BalasHapus
  8. thank you yaaa,,,, atas jempolnya,,,,

    BalasHapus

Warung blogger